Tas
Cart0

Indahnya Warna Natal: Dari Lingkaran Daun hingga Warna Jutaan Bintang

Indahnya warna natal - jajanbaju.com Banyak tradisi perayaan Natal di Barat yang merupakan pengembangan kemudian dengan menyerap unsur berbagai kebudayaan. Pohon natal di gereja atau di rumah-rumah mungkin berhubungan dengan tradisi Mesir, atau Ibrani kuno.  Tetapi dalam kehidupan pra-Kristen Eropa memang ada tradisi menghias pohon dan menempatkannya dalam rumah pada perayaan tertentu. Tradisi “Pohon Terang” modern berkembang dari Jerman pada abad ke-18. Selain pohon terang, biasanya juga dipasang lingkaran daun yang melambangkan keabadian dan harapan yang tak putus. Awalnya terbuat dari dedaunan dan ranting asli yang dipilin dan dihias dengan bunga, buah, atau biji-bijian yang cantik.

Terdapat pula tradisi mengirim Kartu Natal, yang dimulai pada tahun 1843 oleh John CAllcott Horsley dari Inggris. yang paling dikenal adalah Sinterklaas yang berasal dari Belanda,  seorang tokoh legenda, yang mengunjungi rumah anak-anak pada malam dengan kereta salju terbang ditarik beberapa ekor rusa kutub membagi-bagi hadiah.

Natal dimeriahkan dengan banyak cahaya lampu berkelap-kelip. Keluarga-keluarga di Barat biasanya menghias rumah mereka dengan ribuan lampu kecil berwarna-warni sehingga terlihat bagai hamparan bintang. Wow!!Bayangkan indahnya … Selain untuk menambah semarak perayaan, ini juga memiliki pemahaman cahaya yang ada, maksudnya adalah Kristus akan mengusir kuasa kegelapan.

Berbeda dengan tradisi perayaan Natal di Barat, perayaan Natal ritus timur banyak mengandung aspek rohani seperti puasa, bermazmur, membaca Alkitab, dan puji-pujian. Di Gereja-gereja Arab, boleh dibilang tidak ada perayaan Natal tanpa didahului puasa. Gereja Ortodoks Syria melakukan persiapan Natal dengan berpuasa selama 10 hari. Sementara di Gereja Ortodoks Koptik puasanya lebih lama lagi, yaitu sejak minggu terakhir November. Jadi, sekitar 40 hari. Waktu iftar (buka puasa) pada tanggal 7 Januari pagi. Puasa pra-Natal ini disebut dengan puasa kecil (Shaum el-Shagir). Meskipun agak berbeda dalam tradisi, secara prinsip cara ini tidak jauh berbeda dengan cara berpuasa Gereja-gereja Orthodoks lain.

Lepas dari pemahaman tersebut, Natal identik dengan warna  putih, merah, hijau, emas, perak, ungu, dan biru. Tidak ada doktrin khusus dalam warna-warna tersebut. Secara keseluruhan melambangkan kebahagiaan dan semangat Natal. Ada juga yang memahaminya dengan makna tertentu.

Makna Warna Natal:

Putih: identik dengan kesucian dan ketenangan. Di negara-negara yang merayakan Natal pada musim salju, sebagian besar bangunan, tumbuhan, dan tanah tertutup dengan salju sehingga terlihat hampir sama, tidak ada perbedaan. Warna putih juga dipahami sebagai warna harapan, terang, spiritual, dan pengampunan (maaf).

Merah: identik dengan semangat dan kebebasan. Warna ini sangat identik dengan perayaan Natal. Pada saat Natal, banyak orang memakai pakaian berwarna merah terang, , mungkin ini dipelopori oleh  tradisi Sinterklas yang memakai baju warna merah..bisa jadi.. Menurut Marian L. David dalam buku Design in Dress warna merah melambangkan kekuatan, keberanian, pengorbanan, dan vitalitas.

Hijau: hijau dan merah biasanya dirangkai bersama dengan warna merah pada saat Natal. Warna ini merupakan warna alami yang menenangkan dan abadi (evergreen). Dari sisi psikologis, warna hijau melambangkan kepercayaan, perenungan, kesetiaan, berseri, dan kelembutan.

Emas: warna emas adalah warna yang cemerlang yang berharga. Warna emas ini diasosiasikan berbeda-beda namun cenderung bermakna sesuatu yang “menakjubkan”.

Perak: warna ini kurang lebih bermakna hampir sama dengan warna emas, namun perak terkesan lebih modern dan populer belakangan ini. Warna perak mendekati dengan warna abu-abu keputihan yang melambangkan intelegensia.

Ungu: ungu juga dipersepsikan sebagai warna kesucian dan keagungan. Warna ini juga biasanya memberikan karakter yang kuat sekaligus sejuk bagi orang yang memakainya.

Biru: masih ingat dengan “blue eve“? yaa…blue eve yang dimaksud malam tenang kelahiran Yesus. Blue eve terkadang juga dimaknai sebagai “malam yang dinantikan” yaitu malam perayaan Tahun Baru. Goethe (Darmaprawira dalam “Warna”, 2002, hal 46) menyebutnya sebagai warna yang mempesona, spiritual, monoteis, kesepian, saat ini memikirkan masa lalu dan masa mendatang. Namun warna biru juga diperspektifkan “adanya jarak”, atau terpisah. Orang Spanyol dan orang Venesia, kaum elitenya dikuasai warna biru dan hitam. Dewasa ini ungkapan kata “darah biru” menunjukkan sikap aristokratik.

Setiap orang punya hak masing-masing untuk merayakan Natal. Hal yang terpenting adalah makna syukur di dalamnya. Tapi tidak ada salahnya merayakan Natal dengan penuh sukacita dalam suasana yang sederhana dengan memaknainya lebih dalam. Pilih warna Natalmu…jadilah inspirasi dan berkat…shaloom..

Share Button

Tags: , , ,

No comments yet.

Tinggalkan Komentar untuk "Indahnya Warna Natal: Dari Lingkaran Daun hingga Warna Jutaan Bintang"

085701467894